Zaman sekarang pastinya orang akan lebih mudah merekam momen penting dengan media gambar atau video. Tapi entah mengapa, aku masih suka nulis blog walaupun banyak orang yang mulai meninggalkannya. Semoga tulisan kali ini memberikan manfaat untukku.
Akhir-akhir ini aku sedang mendapatkan satu pelajaran penting dari nasihat yang selama ini almarhum papa sering katakan. Waktu masih remaja mungkin aku tidak begitu faham maksud nasihatnya, namun saat sekarang menginjak usia 30an, nasihat itu begitu terasa dan amat membekas dalam benakku. Disclaimer dulu ya bahwa aku memang belum begitu bijaksana layaknya orang yang sudah menginjak usia 40 tahun ke atas ketika usia kematangan hidup dalam perspektif Islam, namun aku hanya berbagi pengalaman aku yang masih sangat sedikit tentang kehidupan ini. Aku ingin segera menulis blog kali ini karena sekarang adalah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Ya, karena aku sedang mengetik blog kali ini di waktu ba’da ashar tepatnya Jum’at sore. Semoga doa-doa yang kita panjatkan terkabul.
Nasihat itu begitu banyak. Kita bisa dapatkan nasihat dari siapapun, bisa jadi dari guru, teman, orangtua, atau siapapun. Salah satu sosok yang sering memberiku nasihat adalah opa, alhamdulillah beliau masih hidup. Semoga Allah memberkahi usia beliau. Opaku sekarang berusia 92 tahun, beliau senantiasa menasihati cucu-cucunya tentang 3 hal, yaitu; ‘Rendahkan Hati, Tinggikan Cita dan Jadilah Anak Yang Berguna’. Kenapa huruf depannya aku caps lock? Karena 3 nasihat tersebut adalah judul buku autobiografi yang opa tulis saat ulang tahun beliau yang ke 70.
Sosok lainnya yang sering memberiku nasihat adalah papa. Papaku sudah meninggal 5 tahun lalu, tepatnya tahun 2021 silam. Di saat-saat aku mengenang papa kembali, seringkali justru yang muncul dalam ingatanku yang sangat amat melekat adalah nasihat-nasihat yang sering papa sampaikan. Nasihat-nasihat papa begitu membekas di dalam diriku. Banyak sekali nasihat-nasihat papa yang sering papa sampaikan kepadaku, terutama saat papa sedang mengantar dan menjemputku pulang sekolah. Selama perjalanan di mobil, papa banyak sekali menasihatiku banyak hal, tentunya aku sendiri tidak mampu menghitungnya. Terlalu banyak pesan yang papa sampaikan. Kepergian papa banyak membuatku berfikir keras tentang nasihatnya. Mungkin disebabkan saat remaja aku tidak begitu memperhatikan isi atau maksud dari pesan-pesan yang papa sampaikan. Entah mengapa saat aku dewasa, bertambah usia, menghadapi masalah, menjalani rumah tangga, menjalani kehidupan sehari-hari yang terkadang ada ujian dan cobaan yang tak terduga, barulah aku mulai mengerti sedikit demi sedikit apa maksud dari nasihat-nasihat papa. Ya begitulah hidup, banyak sekali ujian yang menuntut kita untuk terus belajar dan memahami apa maksud Allah untuk menguji kita dalam ujian tertentu.
Salah satu nasihat yang papa pernah sampaikan kepadaku adalah, “Doa yang banyak, Fat….” Aku tidak begitu faham sih, karena mungkin saat itu aku tidak sempat bertanya kepada papa atau mengkonfirmasi langsung maksud dari nasihatnya itu. Entah papa ingin aku banyak mendoakannya atau papa ingin aku yang justru harus memperbanyak doa-doaku sendiri. Entahlah. Wallahu’alam. Tapi aku baru meresapinya saat ini, aku tidak akan menceritakan ujian yang Allah berikan kepadaku karena aku yakin setiap manusia diuji sesuai kapasitasnya masing-masing. Namun aku hanya tertegun dengan kata-kata yang papa ucapkan saat itu benar-benar aku rasakan begitu dalam maksudnya saat ini. Kadang kala aku butuh waktu untuk memahami takdir-takdir Allah, aku merasa selama aku hidup rasanya aku hanya mengikuti saja arahnya kemana, seperti air yang mengalir membawaku pergi. Tapi ternyata aku salah. Aku harus berdoa, itu yang papa minta. Papa ingin aku berdoa dan terus berdoa. Papa ingin aku mengerti hari demi hari bahwa Allah itu tidak pernah acak-acakan mengatur segala urusan di dalam hidup kita, bahkan tidak pernah berantakan sedikitpun. Allah sangat presisi menentukan takdir hidup kita, tanpa kita menyadarinya atau bahkan sering lupa bahwa Allah-lah sebaik-baik yang mengatur segala urusan kita. Kadang kala, sebagai manusia yang lemah, aku menargetkan sesuatu pada waktu tertentu, aku mengharapkan sesuatu yang dalam benakku aku ingin sekali itu semua terjadi ‘sekarang’ juga, aku juga berharap adanya jawaban ‘segera’ dari apa yang aku minta. Ternyata aku salah. Hidup tidak bekerja demikian. Kita diminta bergerak saja alias berusaha, lalu berdoa. Hanya Allah yang tahu waktu yang benar-benar tepat. Namun seringkali manusia terjebak dalam emosi dan fikiran yang banyak menyesatkan dirinya sendiri. Padahal itu bukan cara kerja hidup ini. Kita butuh Allah. Kita butuh angkat tangan kita di hadapan Allah, lalu meminta kepadaNya. Kita butuh Allah. Kita butuh menceritakan keluh kesah kita, bukan berkeluh kesah kepada manusia yang lemah. Kita butuh Allah yang mengerti isi hati kita sepenuhnya. Kita perlu berharap kepada Allah yang tidak akan pernah mengecewakan kita segala bentuk keputusannya. Sebab hanya Allah yang Maha Mengetahui waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginan kita. Simple-nya adalah kalau kita berdoa langsung dikabulkan ya berarti itu sudah pantas kita dapatkan. Namun kalau belum terjadi, bisa jadi Allah menunda dan menginginkan kita untuk bersabar ‘sedikit’ karena sebentar lagi akan terwujud, hanya saja Allah ingin menguji apakah kita percaya kepada Allah atau tidak. Kita juga harus meminta kepada Allah, walaupun yang diberikan Allah tidak seperti yang kita inginkan tapi Allah sangat mampu menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apapun yang kita bayangkan. Sekali lagi, Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hambanya.
Kita sudah berusaha, kita sudah bergerak, dan kita sudah jalani ikhtiarnya sebagai manusia. Lantas yang menentukan siapa? Allah. Begitulah hidup ini bekerja. Dari situlah, aku baru faham dengan nasihat papa agar aku senantiasa berdoa. Papa ingin aku berharap dan selalu yakin dengan keputusan Allah. Papa ingin aku tidak banyak berfikir hal-hal yang diluar kapasitas manusia. Papa ingin aku selalu yakin 100% kepada Allah dan tidak pernah meragukan Allah sedikitpun. Papa ingin aku bergantung kepada Allah, agar aku tidak patah karena berharap kepada manusia. Papa ingin aku yakin bahwa Allah sudah merencanakan yang terbaik apapun urusan yang akan aku jalani. Papa ingin aku selalu mengharapkan Allah untuk mengurusi segala urusanku tanpa aku melupakan Allah sedetikpun. Terima kasih papa atas nasihatnya. Aku tahu setiap orangtua tidak ada yang sempurna. Bahkan aku pun semakin yakin setelah menjalani peran menjadi orangtua, aku jadi faham bahwa tidak pernah ada orangtua yang sempurna. Yang tersisa dari papa adalah nasihatnya yang begitu sempurna untukku. Semoga Allah senantiasa merahmati papa di alam kubur. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang papa upayakan selama hidupnya dengan tiket masuk surga firdaus. Aamiin.
Jum’at, 14 Agustus 2026
Fatmah Ayudhia Amani